Monday, March 16, 2015

Pertemuan 2 Matkul SIP - Sistem Proyeksi dan Sistem Koordinat


Sistem Proyeksi Peta Kartografis

Menurut Mas Sukoco (1997), peta dalah suatu representasi/gambaran unsur-unsur atau kenampakan-kenampakan abstrak, yang dipilih dari permukaan bumi dan umumnya digambar pada suatu bidang datar dengan pengecilan (diskalakan). Menurut Mutiara (2004) suatu peta harus dapat memenuhi ketentuan geometrik sebagai berikut :
1)     Jarak antara titik yang terletak di atas peta harus sesuai dengan jarak sebenarnya di permukaan bumi (dengan memperhatikan faktor skala peta)
2)   Luas permukaan yang digambarkan di atas peta harus sesuai dengan luas sebenarnya di permukaan bumi (dengan memperhatikan faktor skala peta)
3)     Besar sudut atau arah suatu garis yang digambarkan di atas peta harus sesuai dengan besar sudut atau arah sebenarnya di permukaan bumi
4)     Bentuk yang digambarkan di atas peta harus sesuai dengan bentuk yang sebenarnya di permukaan bumi (dengan memperhatikan faktor skala peta) 
Pada daerah yang relatif kecil (30 km x 30 km) permukaan bumi diasumsikan sebagai bidang datar, sehingga pemetaan daerah tersebut dapat dilakukan tanpa proyeksi peta dan tetap memenuhi semua persyaratan geometrik. Namun karena permukaan bumi secara keseluruhan merupakan permukaan yang melengkung, maka pemetaan pada bidang datar tidak dapat dilakukan dengan sempurna tanpa terjadi perubahan (distorsi) dari bentuk yang sebenarnya sehingga tidak semua persyaratan geometrik peta yang ‘ideal’ dapat dipenuhi (Mutiara, 2004). Dalam hal ini volume elipsoid sama dengan volume bola. Bidang bola inilah yang nantinya akan diambil sebagai bentuk matematis dari permukaan bumi untuk mempermudah dalam perhitungan (Prihandito, 1988).
Proyeksi Peta adalah prosedur matematis yang memungkinkan hasil pengukuran yang dilakukan di permukaan bumi fisis bisa digambarkan diatas bidang datar (peta). Karena permukaan bumi tidak teratur maka akan sulit untuk melakukan perhitungan-perhitungan langsung dari pengukuran. Untuk itu diperlukan pendekatan secara matematis (model) dari bumi fisis tersebut. Model matematis bumi yang digunakan adalah ellipsoid putaran dengan besaran-besaran tertentu. (Mutiara, 2004). Menurut Wongsotjitro (1982), pemilihan proyeksi peta perlu memperhatikan:
1)    Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh peta berhubung dengan penggunaan peta
2)       Besar dan bentuk daerah di atas permukaan bumi yang akan dibuat petanya
3)       Letak daerah itu di atas permukaan bumi.
Secara garis besar, klasifiksai proyeksi peta dapat digolongkan menurut pertimbangan yang dilakukan (Prihandito, 1988).

A.              Pertimbangan Ekstrisik 
1.        Berdasarkan bidang proyeksinya
a)       Proyeksi Zenithal/Azimuthal, bidang proyeksi berupa bidang datar yang menyinggung bola pada kutub, equator atau sembarang tempat. Pada proyeksi ini dibedakan lagi atas titik sumber dari pusat bumi :
v  Gnomonis, arah sinar dari pusat bumi.
v  Stereografis, arah sinar dari kutub yang berlawanan dengan titik singgung proyeksi.
v  Orthografis, arah sinar dari titik jauh tak terhingga.
b)  Proyeksi Cylindrical (silinder), parallel merupakan garis lurus horizontal dan semua meridian berupa garis-garis lurus vertikal.
c)   Proyeksi Conic (kerucut), proyeksi kerucut yang normal mempunyai parallel yang melingkar dan meridian berupa garis lurus yang radial (baik terutama untuk negara-negara di lintang tengah). 

Gambar 1. Bentuk proyeksi peta berdasarkan bidang proyeksinya
Sumber:http://earth.rice.edu/mtpe/geo/geosphere/topics/projections.jpg

2.        Ditinjau dari persinggungannya:
a)       Tangensial, apabila bola bumi bersinggungan dengan bidang proyeksi.
b)       Secansial, apabila bola bumi berpotongan dengan bidang proyeksi.
c)       Polysuperficial, terdiri dari banyak bidang proyeksi, misalnya suatu seri dari kerucut. 
3.        Ditinjau dari garis karakteristik/kedudukan sumbu simetri:
a)       Proyeksi Normal, sumbu simetri berimpit dengan sumbu bumi.
b)       Proyeksi Transversal, sumbu simetri tegak lurus dengan sumbu bumi atau terletak pada bidang ekuator.
c)       Proyeksi Miring (Oblique), sumbu simetri membentuk sudut terhadap sumbu bumi.

Gambar 2. Bentuk proyeksi peta berdasarkan bidang proyeksinya dan kedudukan sumbu simetri
Sumber: Mutiara (2004)
B.        Pertimbangan Intrisik 
1.        Berdasarkan kesalahan sifat yang diperlihatkan:
a)       Proyeksi Equivalent, luas daerah yang dipertahankan.
b)       Proyeksi Conform, bentuk pada peta yang dipertahankan.
c)       Proyeksi Equidistan, jarak pada peta yang dipertahankan. 
2.        Ditinjau dari generasinya:
a)       Geometris, proyeksi perspektif atau sentral.
b)       Matematis, tidak dilakukan proyeksi, semuanya diperoleh dengan perhitungan matematis.
c)       Semi geometris, sebagian peta diproyeksikan secara geometris dan sebagian titik-titik diperoleh   dengan perhitungan matematis.
Proyeksi Peta yang umum dipakai di Indonesia adalah Proyeksi Polyeder.Proyeksi Polyeder adalah proyeksi kerucut normal konform. Pada proyeksi ini, setiap bagian derajat dibatasai oleh dua garis paralel dan dua garis meridian yang masing-masing berjarak 20. Diantara kedua paralel tersebut terdapat garis paralel rata-rata yang disebut sebagai paralel standar dan garis meridian rata-rata yang disebut meridian standar. Titik potong antara garis paralel standar dan garis meridian standar disebut sebagi ‘titik . Setiap bagian derajat proyeksi Polyeder diberi nomor dengan dua digit angka. Digit pertama yang menggunakan angka romawi menunjukan letak garis sedangkan digit kedua yang menggunakan angka arab menunjukangaris meridian standarnya (λ 0).
Untuk wilayah Indonesia penomoran bagian derajatnya adalah :
Ø  Paralel standar : dimulai dari I (ϕ 0 = 6°50 LU) sampai LI (ϕ 0 =10°50 LU)
Ø  Meridian standar : dimulai dari 1 (λ 0 =11°50 BT) sampai 96 (λ 0 =19°50 BT)
Ø  Proyeksi Polyeder beracuan pada Ellipsoida Bessel 1841 dan meridian nol Jakarta (λ Jakarta =106°48 27′′,79 BT)

Koordinat Bumi Latitude (Lintang), Longitude (Bujur)

Kali ini masuk wilayahnya bidang geografi, yang banyak digunakan pula untuk kehidupan. Kalau saya pikir kedepan, bila nanti mobil-mobil sudah tidak perlu sopir manual karena menggunakan sistem autopilot seperti pesawat terbang atau kapal laut. Dasar pemikirannya adalah bidang yang akan kita bahas sekarang. Kita akan membahas mengenai Koordinat bumi yang biasa digunakan dalam bidang navigasi. Navigasi atau pandu arah adalah penentuan kedudukan (position) dan arah perjalanan baik di medan sebenarnya atau di peta. Untuk menentukan posisi kita perlu tahu koordinat.  Koordinat adalah kedudukan suatu titik pada peta.  Secara teori, koordinat merupakan titik pertemuan antara absis dan ordinat. Koordinat ditentukan dengan menggunakan sistem sumbu, yakni perpotongan antara garis-garis yang tegak lurus satu sama lain. Sistem koordinat yang resmi dipakai ada dua macam yaitu koordinat Geografis(Geographical Coordinate) dan koordinat Grid (Grid Coordinate atau UTM). Dalam menentukan koordinat kita perlu menggunakan latitude dan longitude.

Gambar 3. Koordinan bumi pada lintang (latitude) dan bujur (longitude)

Dalam geografi, garis lintang adalah garis khayal yang digunakan untuk menentukan lokasi di Bumi terhadap gariskhatulistiwa (utara atau selatan). Posisi lintang biasanya dinotasikan dengan simbol huruf Yunani φ. Posisi lintang merupakan penghitungan sudut dari 0° di khatulistiwa sampai ke +90° di kutub utara dan -90° di kutub selatan.
Bujur kadangkala dinotasikan oleh abjad Yunani λ, menggambarkan lokasi sebuah tempat di timur atau barat Bumi dari sebuah garis utara-selatan yang disebut Meridian Utama. Longitude diberikan berdasarkan pengukuran sudut yang berkisar dari 0° di Meridian Utama ke +180° arah timur dan 180° arah barat. Bujur Barat dan Bujur TImur merupakan garis khayal yang menghubungkan titik Kutub Utara dengan Kutub Selatan bumi dan menyatakan besarnya sudut antara posisi bujur dengan garis Meridian. Garis Meridian sendiri adalah bujur 0 derajat.
Kaitannya dengan sebuah file foto atau gambar yang diperoleh dari kamera digital yang mempunyai fasilitas GPS, latitude dan longitude ditunjukkan setiap derajat lintang dibagi menjadi 60 menit (satu menit lintang mendekati satu mil laut atau 1852 meter, yang kemudian dibagi lagi menjadi 60 detik. Untuk keakurasian tinggi detik digunakan dengan pecahan desimal. Informasi ini dapat kita olah menggunakan PHP dan kita masukkan kedalam program GIS yang

DAFTAR PUSTAKA
Earth Rice. Projections. http://earth.rice.edu/mtpe/geo/geosphere/topics/projections.jpg (diakses tanggal 16 Maret 2015, pukul 20.46 WIB)
Prasetyo, Tyodio. Sistem Koordinat Bumi. http://gametechon20.blogspot.com/jpg (diakses tanggal 16 Maret 2015, pukul 20.48)
Mutiara, I. 2004. Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Teknis Pengukuran Dan Pemetaan Kota. Surabaya: Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

No comments:

Post a Comment